November 24, 2008

Aku dan Seperti aku(oleh:Arya bukan saya…he..he..)

Ditulis dalam Life story, Uncategorized tagged pada 9:35 am oleh ziezahworld

pembukaan oleh zie:ini bukan tulisan saya, tapi teman saya yang yah dapat dikatakan lumayan akrablah menemani malam-malam sepi saya(kayak apa aja), yah intinya dia nitip posting…silakan komen kalau mau…

Aku dan Seperti aku

Oleh : Arya Mellahoma

Lama sudah tak ku menulis. Seberapa lama aku selalu melontarkan kata-kata, itu jawaban lama waktu aku tak pernah menulis. Kini hari menjelang sore dan langit masih nampak berseri dengan ujung-ujung cahaya yang tertera di belantara awan. Naungan derai-derai musik yang bergelombang masuk ke telinga, tertangkap jelas lantunan-lantunan nada yang tersusun baik dan merangkai lembut.

Berbagai pertanyaan yang tak pernah berhenti bersahutan bak gemercik air di sela-sela hujan. Sebuah hujan kebingungan di musim kemarau. Hujan yang sama sekali tak mendinginkan dari kekeringan musim kemarau, hujan yang menyerap tetes- tetes air yang tersisa setelah musim kemarau yang panjang. Tak cukup menyedihkan namun bisa melemparkan ke jurang keputus asaan. Bisa mati dalam sebuah karya, atau bahkan berkarya dalam sebuah kematian.

Suatu saat dimana matahari bersinar cukup terang, aku meneduhkan diri. Namun apa yang terjadi saat air hujan menitik deras, aku malah membasahi sekujur tubuhku dengan baju yang masih tersandang baik. Setetes air yang melintas dari ujung rambutku, melintasi mataku, merayap lewat hidungku, kemudian ke mulutku, dan akhirnya meluncur deras ke tanah. Semua begitu saja. Hingga tetes-tetes air itu bergerombol layaknya kawanan unggas di pagi buta.

Masih belum mengerti apa yang terjadi setelah deras hujan turun, tapi aku tetaplah aku. Seperti tumbuhan dengan daun yang tak hijau, bunga yang tak indah, dan akar yang tak kokoh. Karena itu ku mencari air hujan, yang mungkin bisa sedikit menjelaskan kenapa aku seperti ini.

Lama tak kutemui secarik demi secarik noda tinta ditiap sapuan tulisanku. Tulisan yang selalu menjelaskan siapa aku dan kenapa aku. Dari tiap titik noda hitam dalam sebuah bentangan putihnya kertas, aku menceritakan, menceritakan sebuah cerita yang tak pernah diceritakan. Sepotong demi sepotong masalah yang dicerna oleh pena, setiap gigitannya membantuku melupakan siapa aku dan kenapa aku.

Aku tak tertarik lagi mengingat dan melantunkan nada-nada yang ternyata mengantarkan ku dalam setumpuk timbunan sampah. Sampai-sampai membuatku layaknya seperti timbunan itu. Aku bangkit tanpa menyapu sampah yang telah melekat, yang mungkin karena aku terlalu lama berada di timbunan itu. Sebuah jati diri yang terkotori hingga ditumbuhi semak belukar tak berduri.

Sebuah kesedihan?bukan, ini bukan sebuah kesedihan, in hanya sekelumit kesedihan. Jadi jangan terbangun hanya untuk melihat ku kembali tidur karena kesedihan ini. Aku tetap terbangun, walau terbangun dengan kesedihan dalam tidurku. Kembalilah tidur dan jangan lihat aku yang terbangun dengan air mata di wajahku. Tumbuhan yang bertambah kering saat air mata tertumpah dari kantung mata yang seharusnya sudah tak berair lagi.

Sepertinya sudah cukup aku menangis, dan aku terjaga di senja saat semua orang telah lelah bekerja. Hanya bahagia yang belum mereka dapatkan, seperti aku yang menaungi senja ini dengan wajah yang sudah kering dari dinginnya air mata. Siapa aku dan kenapa aku, sudah tak kupermasalahkan lagi. Karena siapa mereka dan kenapa mereka pun aku tidak tau. Jadi buat apa aku tau siapa aku dan kenapa aku tapi aku tidak tau siapa mereka dan kenapa mereka. Aku bukan orang yang terbuang hingga hal itu bisa terjadi. Dulu mungkin aku sampah tapi sekarang aku sampah yang sudah bersih.

Mungkin sulit untuk menerpa sinar sehingga daun ku tak pudar, tapi hanya dengan ini daun ku dapat tumbuh jadi daun yang hijau. Tiap sorot mata yang selalu menyurutkan ku, membuat ku tertunduk menahan malu. Walaupun mereka sebenarnya tak tau siapa aku. Aku tak mau hancur saat aku tinggi seperti tumbuhan yang tumbuh tak berhenti. Akar ku belum cukup kokoh menyanggaku jika aku terlalu memaksakan diri yang membuatku takut jatuh tak berarti. Karena aku tetaplah aku, seperti tumbuhan dengan daun yang tak hijau, bunga yang tak indah, dan akar yang tak kokoh.

Aku tau karena langit yang berkata dengan bait-bait sinarnya, bahwa semua telah sesuai dengan jalannya. Dan hanya bisa jatuh jika selalu melihat petang yang tak pernah tunjukkan kilaunya. Andai lama itu tak membuat ku menunggu, aku pasti tak akan tau seberapa lama sebuah lama itu. Kadang dalam himpitan kata menunggu, aku lebih sering memikirkan hidup. Memikirkan kapan aku dan dimana aku, dan tak lagi memikirkan siapa aku dan kenapa aku.

Tak terasa hari sudah semakin larut, tapi sinar-sinar itu belum hilang dari pandanganku. Jadi mungkin larutnya malam bukan akhir dari sebuah cerita. Karena niscaya esok akan hadirkan kembali ceritanya untuk dituturkan dalam bentangan kertas yang berbeda.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.